Opini
Home > Kampanye Pemerintah Tidak Berpengaruh Negatif Signifikan
Rasa keprihatinan terhadap dampak rokok bagi kesehatan manusia, menjadi salah satu alasan bagi Subijanto untuk melakukan penelitian ini. Berbagai jenis penyakit yang gejalanya muncul jauh setelah seseorang mulai belajar merokok, membuat perokok jatuh dalam perangkap yang nyata. Apalagi, biasanya gejala tersebut muncul dalam jangka waktu antara 15-40 tahun kemudian, misalnya penyakit jantung.
"Karena itu, semakin cepat seseorang menghentikan kebiasaan merokok, maka akan menghindarkan yang bersangkutan dari risiko bahaya karena konsumsi tembakau tersebut," kata lulusan Program Doktor Ekonomi (kekhususan Manajemen) di Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang ini.
Penelitian Subijanto ini mengadopsi dari Theory of Reasoned Action dan Theory of Planned Behavior oleh Ajzen dan Fishbein yang dimodifikasi oleh Devries dkk., dengan mengubah variabel kontrol tingkah laku dengan variabel "self efficacy"-nya Bandura. Populasinya adalah perokok atau seseorang yang memiliki pengalaman dengan merokok di Jatim.
Menurut Subijanto, dari hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa kampanye antirokok pemerintah secara langsung tidak berpengaruh negatif signifikan, baik pada sikap terhadap perilaku merokok maupun pada norma subjektif terhadap kebiasaan merokok. Ini berarti usaha kampanye antirokok pemerintah masih sia-sia. "Ini memang cukup memprihatinkan," terangnya
Meski begitu, Subijanto memberikan beberapa saran. Untuk pemerintah, slogan kampanye antirokok pemerintah harus lebih saleable dan lebih marketable dibanding slogan-slogan iklan rokok. Sedang untuk pabrik rokok, mereka harus bisa menciptakan tembakau yang tidak terlalu membahayakan para perokoknya. Misalnya saja dengan rekayasa genetika, maupun penggunaan mesin yang bisa menghilangkan atau menurunkan bahan-bahan yang berbahaya dalam tembakau.
"Pemerintah dan pabrik rokok juga harus duduk bersama untuk mencari solusi," terang laki-laki kelahiran Banyuwangi, 9 Juni 1948 ini.
Caranya antara lain dengan mendirikan pusat penelitian tanaman tembakau untuk menemukan tanaman tembakau yang bebas nikotin, tar dan zat-zat lain yang mernbahayakan kesehatan melalui pemuliaan tanaman. Juga bisa mendirikan pusat pengobatan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan rokok, dan lain-lain.
Penelitian Subijanto ini mendapatkan dana Hibah Fundamental dari Dikti tahun anggaran 2011. Hasil penelitiannya akan dipresentasikan dalam forum kedua International Conference on Social Sciense, Economics and Art (2nd ICSSEA) yang diselenggarakan pada 12-13 Desember 2011 di Impiana KLCC Hotel, Kuala Lumpur Malaysia. Selain itu, artikelnya juga akan dimuat dalam International Journal of Social Science, Economics and Art (IJSSEA).
Sebelumnya, Subijanto juga menjadi presenter dalam kancah Internasional, yaitu di International Conference of Public Organization (ICONPO) di Universitas Muhammadiyah Jogjakarta tanggal 21-22 Januari 2011 dengan judul artikel "Government Antismoking Campaign: Quixotic Dreams or Confident Expectation".
Selanjutnya, pada 27-28 Juni 2011 menjadi presenter dalam International Seminar Natural Resources, Climate Change and Food Security in Developing Countries (ISNAR-C2FS) di Graha Pena Surabaya, dengan judul artikel Nicotiana tobaccum: "The road intersection".
Sumber : Radar Surabaya, Edisi Kamis, 24 November 2011
